Semua berawal dari munculnya aku ke permukaan dunia. Mulai mengenal banyak manusia yang tentunya punya nama, seperti Ruben, Joni, Dodi, Maya, dan yang lainnya. Aku beradaptasi dengan mereka yang sebelumnya tak kukenal. Banyak karakter yang bisa kupelajari dari masing-masing kepala.
Ruben misalnya, ia seorang pria metropolis dengan sifatnya yang manja. Tapi menurutku ia adalah seorang pria yang menyenangkan dan mau membantu temannya yang sedang kesusahan. Dia sangat menyukai otomotif dan sekarang sedang terkena otomotif syndrome. Selain bekerja, sehari-hari hidupnya dihabiskan dengan memodifikasi kendaraannya baik itu interior maupun eksteriornya. Ia rela menghabiskan uangnya hanya untuk mengganti audio sistemnya yg baru saja dipakai selama 2 minggu dengan merk baru yang katanya lebih canggih. Apapun ia rela korbankan demi kesibukan otomotifnya itu. Maklum, namanya juga syndrome!
Sudahlah. Ruben adalah contoh betapa aku sangat mempelajari karakter setiap orang, entah yang kukenal atau tidak. Aku percaya bahwa orang lain pasti juga akan mempelajari bagaimana aku, sifatku, sikapku, hingga penampilanku. Pasti tak sedikit orang yang menilaiku (mungkin) arogan, sombong, atau over PeDe. Tapi tak sedikit juga orang yang menilaiku baik, senang menolong, jarang mengeluh, dan sebagainya. Tapi itu hanya anggapan dan penilaian mereka saja terhadapku, dan selama apa yang menurutku benar, pasti aku lakukan. Bahkan Ruben dan teman-teman yang lain bahkan semua manusia yang ada dimuka bumi ini juga akan melakukan hal yang sama.
Buruknya, masih banyak orang yang membicarakan keburukan orang lain di belakang. Seperti “eh, si A sok artis ya, coba deh perhatiin gayanya”, atau bermain kata lewat sindiran. Menurutku itu menyedihkan! Seharusnya orang yang membicarakan keburukan di belakang atau menyindir orang lain itu bisa langsung menujukan penilaiannya kepada yang bersangkutan. Karena faktanya, tidak semua orang akan senang jika dirinya dibicarakan orang lain di belakang. Itu bisa sangat menyakitkan untuknya, bahkan melebihi sakitnya ditinju berkali-kali.
Tapi di antara sedikit orang yang senang dibicarakan di belakang, mungkin aku adalah salah satunya. Bahkan dibenci orang sekalipun, aku masih bisa tersenyum dan terus berpikir positif pada mereka. Tak ada dendam sama sekali, dan tak ada keinginan untuk melakukan hal seperti itu. Lebih baik kalau aku tak suka, aku bicara langsung ke orangnya. Frontal itu baik, karena mengarah pada kejujuran. Dan tak ada yang salah dengan kejujuran, selama itu dibicarakan di depan yang bersangkutan. Aku termasuk orang yang bisa dikatakan frontal, berbicara tentang apa yang aku ingin bicarakan. Bahkan melihat kesuksesan orang lain pun aku ikut bersyukur dan bangga, karena bisa menjadi pemacu semangatku untuk lebih kreatif dalam bekerja. Dendam, iri atau cemburu hanya membuat dosa baru dan hanya membuat penyakit baru dalam tubuh.
Hidup seperti roda yang selalu berputar, kadang diatas kadang dibawah. Pasang surut kehidupan merupakan romantika yang semestinya ditanggapi dengan bijak. Tetap berpikir positif dan selalu bersyukur, itu kunci kesuksesan dan kebahagiaan hidup.
Aku pikir mereka baik hati karena sudah menyisihkan waktunya untuk membicarakanku dan (mungkin) menjelekkan aku di belakang. Perhatian sekali ya. Semakin aku dibicarakan, itu berarti semakin membuatku mengerti tentang kedewasaan. Setidaknya mengajarkan aku bahwa aku tidak boleh seperti mereka. Itu sebabnya AKU BAHAGIA JIKA BANYAK ORANG MEMBICARAKANKU.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar